1. Mary Whirnington
Pada cerita rakyat Barat, Bloody Mary adalah setan atau penyihir yang
dikatakan akan muncul di kaca ketika namanya dipanggil tiga kali (atau
lebih, bergantung versi cerita), sering digunakan sebagai bagian dari
permainan. Cerita yang sangat mirip lainnya dengan nama yang sama adalah
Mary Worth, Mary Worthington, Hell Mary, dan Black Agnes. “Bloody Mary”
adalah permainan dan hantu dengan yang sama (atau nama lainnya, seperti
“Mary Worth”) dikatakan akan muncul di kaca ketika dipanggil. Juga
dikatakan bahwa jika berkata carol tiga kali, hantu kaca akan tiba.
Salah satu cara umum untuk membuatnya muncul adalah berdiri di depan
kaca dalam kegelapan (biasanya di kamar mandi) dan mengulangi namanya
tiga kali. Bloody Mary Worth dideksripsikan juga sebagai pembunuh
anak-anak.Bloody Mary adalah legenda Amerika, yaitu seorang wanita, Mary Whirnington yang dikabarkan meninggal di depan cermin. beberapa juga mengatakan kalau meninggal dibunuh dengan kejam oleh kekasihnya atau teman kencannya. beberapa menganggapnya seorang penyihir. Arwah Mary, terperangkap di dalam cermin sehingga ia tidak bisa keluar kecuali ada seseorang yang membuka jalannya dan karena terlalu lama terperangkap di dalam cermin, jiwanya menjadi marah, hampa dan bisa melakukan hal-hal yang di luar batas kemanusiaan. Bloody Mary dapat dipanggil dengan cara mengatakan Bloody Mary 3 kali di depan cermin kamar mandi dengan lampu yang mati. dan kemudian Bloody Mary akan muncul. Mary akan mengambil mata orang yang memanggilnya.
2. Elizabeth Bathory
Elizabeth Bathory, sebuah nama yang sangat melegenda hampir dipenjuru benua Eropa tidak terkecuali didunia. Dan Elizabeth dikenal sebagai countess Hungaria dari keluarga Báthory.
Keluarga ini diingat untuk pertahanan melawan Utsmaniyah. Ia terkenal
sebagai pembunuh berantai dalam sejarah Hungaria dan Slowakia dan
diingat sebagai Wanita Berdarah Csejte (kini Čachtice).
Namun
bukan karena legenda kecantikannya yang membuatnya terkenal tapi
dikarenakan dia merupakan seorang pembunuh berantai terbesar dalam
sejarah, tercatat kurang lebih 650 nyawa manusia melayang sia-sia
ditangannya. Ini adalah pencapaian rekor sebuah kasus pembunuhan
berantai yang dilakukan oleh seorang individu dengan memakan korban
tertinggi sepanjang sejarah umat manusia.
Kenapa
Elizabeth Bathory sampai melakukan perbuatan sadis tersebut?. Apa yang
menjadi motivasinya dalam melakukan pembunuhan berantai?
Elizabeth Bathory lahir di Hungaria tahun 1560, kurang lebih 100 tahun setelah Vlad “The Impaler” Dracul
meninggal. Kakek buyut Elizabeth Bathory adalah Prince Stephen Bathory
yang merupakan salah satu Ksatria yang memimpin pasukan Vlad Darcul
ketika dia merebut kembali kekuasaan di Walachia seabad sebelumnya.
Orangtua
Elizabeth , Georges dan Anna adalah bangsawan kaya raya dan merupakan
salah satu keluarga ningrat paling kaya di Hungaria saat itu. Keluarga
besarnya juga terdiri dari orang-orang terpandang. Salah satu sepupunya
adalah perdana menteri di Hungaria, seorang lagi adalah Kardinal. Bahkan
pamannya, Stepehen kemudian menjadi Raja Polandia.
Namun keluarga Bathory memiliki “sisi” lainnya yg lebih “gelap”
selain segala kekayaan dan popularitasnya. Disebutkan bahwa salah satu
pamannya yang lain adalah seorang penganut Satanis dan penganut
Paganisme sementara seorang sepupunya yg lain memiliki kelainan jiwa dan
gemar melakukan kejahatan sexual.
Tahun
1575, di usia 15 tahun Elizabeth menikah dengan Count Ferencz Nadasdy
yang 10 tahun lebih tua darinya. Karena suaminya berasal dari ningrat yg
lebih rendah, maka Count Ferencz Nadasdy menggunakan nama Bathory
dibelakangnya.
Dengan
demikian Elizabeth bisa tetap menggunakan nama keluarganya yaitu
Bathory dan tidak menjadi Nadasdy. Kedua pasangan tersebut kemudian
tinggal di Kastil Csejthe, yang merupakan sebuah kastil di atas
pegunungan dengan desa Csejhte yang ada dilembah dibawahnya.
Suaminya
jarang mendampingi Elizabeth karena Count Ferencz lebih sering berada
di medan pertempuran melawan Turki Usmani ( Ottoman ). Ferencz kemudian
menjadi terkenal karena keberaniannya di medan pertempuran, bahkan
dianggap sebagai pahlawan di Hungaria dengan julukan “Black Hero of Hungary”.
Elizabeth
yang masih muda tentu senantiasa merasa kesepian karena selalu
ditinggal sang suami. Disebutkan dia memiliki kebiasaan mengagumi
kecantikannya dan kemudian memiliki banyak kekasih gelap yang
melayaninya selama sang suami tidak berada di tempat.
Elizabeth
bahkan pernah melarikan diri bersama kekasih gelapnya namun kemudian
kembali lagi dan suaminya memaafkannya. Tapi hal tersebut tidak
mengurangi ketagihan Elizabeth akan kepuasan seksual. Yang cukup
menghebohkan lagi Disebutkan juga Elizabeth menjadi seorang biseksual
dengan melakukan hubungan lesbian dengan bibinya ,Countess Klara
Bathory.
Elizabeth
kemudian mulai terpengaruh dengan satanisme yg diajarkan oleh salah
seorang pelayan terdekatnya yang bernama Dorothea Szentes yang biasa
disebut Dorka. Karena pengaruh Dorka, Bathory mulai menyenangi kepuasan
seksual lewat penyiksaan yang dilakukannya terhadap pelayan-pelayan
lainnya yang masih muda.
Selain
Dorka, Elizabeth juga dibantu beberapa pelayan terdekatnya yaitu :
suster Iloona Joo, pelayan pria Johaness Ujvari dan seorang pelayan
wanita bernama Anna Darvula, yang merangkap sebagai kekasih Elizabeth.
Bersama
para kekasih dan pelayan-pelayannya tersebut, Elizabeth merubah kastil
Csejthe menjadi pusat teror dan penyiksaan seksual. Para gadis-gadis
muda yang jadi pelayannya disiksa dengan berbagai bentuk penyiksaan
seperti diikat, ditelanjangi lalu dicambuk dan juga menggunakan berbagai
alat untuk menyakiti bagian-bagian tubuh tertentu.
Pada
tahun 1600, suaminya Count Ferencz Nadasdy meninggal dunia bukan dalam
pertempuran tapi karena sakit yang dideritanya dan dimasa itulah “Era Teror” sesungguhnya dimulai.
Memasuki
usia 40 tahunan Elizabeth menyadari bahwa kecantikannya sudah mulai
memudar. Kulitnya mulai menunjukan tanda-tanda penuaan dan keriput yang
sebenarnya lumrah di usia tersebut. Tapi karena Elizabeth adalah pemuja
kesempurnaan dan kecantikan dan dia akan melakukan apa saja demi
mempertahankan kecantikannya.
Suatu
saat dengan tidak sengaja seorang pelayaan wanita yang sedang menyisir
rambutnya secara tidak sengaja menarik rambut Elizabeth terlalu keras.
Elizabeth yang marah kemudian menampar gadis malang tersebut. Darah
memancar dari hidung gadis tersebut dan mengenai telapak tangan
Elizabeth. Saat itu Elizabeth disebutkan “menduga dan percaya” bahwa darah gadis muda tersebut memancarkan cahaya kemudaan mereka.
Serta
merta dia memerintahkan dua orang pelayannya , Johannes Ujvari dan
Dorka menelanjangi gadis tersebut, kemudian menarik tangannya keatas bak
mandi dan memotong urat nadinya. Ketika si gadis meninggal kehabisan
darah, Elizabeth segera mesuk kedalam bak mandi dan berendam dalam
kubangan darah.
Benarkah dia menemukan apa yang diyakininya sebagai “Rahasia Awet Muda”?
Ketika
semua pelayan mudanya sudah mati, Elizabeth mulai merekrut gadis muda
di desa sekitarnya untuk menjadi pelayan di Kastilnya. Dan nasib mereka
semuanya sama , diikat diatas bak mandi kemudian urat nadi mereka
dipotong hingga darah mereka menetes habis kedalam bak mandi tersebut.
Elizabeth
seringkali berendam didalam kolam darah sambil menyaksikan gadis yg
jadi korbannya sekarat meneteskan darah hingga tewas. Sesekali Elizabeth
bahkan meminum darah para gadis tersebut untuk mendapatkan “INNER BEAUTY”.
Lama kelamaan Elizabeth merasa bahwa darah para gadis desa tersebut masih kurang baginya. Demi mendapat darah yang lebih “berkualitas”,
Elizabeth kemudian mengincar darah para gadis bangsawan rendahan. Dia
kemudian melakukan banyak penculikan terhadap gadis-gadis bangsawan
untuk dijadikan korbannya.
Namun
hal tersebut yang justru menjadi bumerang bagi Elizabeth Bathory,
karena hilangnya gadis-gadis bangsawan dengan cepat mendapatkan
perhatian di kalangan bangsawan, orang-orang berpengaruh hingga Raja
sendiri.
Tanggal 30 Desember 1610, sepasukan tentara dibawah pimpinan György Thurzó, yang merupakan sepupu
Elizabeth sendiri, menyerbu Kastil Csejthe di malam hari. Mereka semua
terkejut dan terhenyak melihat pemandangan yang mereka temukan di dalam
kastil tersebut.
Mayat
seorang gadis yang pucat kehabisan darah tergeletak diatas meja makan,
dan seorang gadis lagi yang masih hidup namun sekarat ditemuka terikat
di tiang dengan kedua urat nadinya disayat hingga meneteskan darah.
Dibagian
penjara ditemukan belasan gadis yang sedang ditahan menunggu giliran
untuk dibunuh. Kemudian di ruang basement ditemukan lebih dari 50 mayat
yang sebagian besar sudah mulai membusuk.
Selama
pengadilan atas Elizabeth Bathory di tahun 1611 sekurangnya 650 daftar
nama korban-korbannya didapat berdasarkan laporan dari berbagai pihak.
Mulai dari keluarga-keluarga petani hingga keluarga-keluarga bangsawan.
Elizabeth sendiri tidak pernah didatangkan di pengadilan untuk diadili secara langsung.
Hanya
ke empat pelayannya yang diadili dan kemudian dihukum mati. Namun
Elizabeth mendapatkan hukumannya juga. Raja Hungaria memerintahkan
Elizabeth dikurung dalam kamarnya di Kastil Csejthe selama sisa
hidupnya.
Para
pekerja kemudian dikerahkan untuk menutup semua pintu dan jendela ruang
kamar Elizabeth dengan tembok dengan hanya menyisakan lubang kecil yang
digunakan untuk memasukan makanan dan minuman sehari-sehari.
Tahun
1614, atau 4 tahun setelah Elizabeth di-isolasi dengan tembok di
kamaranya sendiri, seorang penjaga melihat makanan yang disajikan untuk
Elizabeth tidak disentuh selama seharian.
Penjaga itu kemudian mengintip kedalam dan melihat sang Countess tertelungkup dengan wajah di lantai. Elizabeth Bathory ” The Blood Countess ” telah meninggal di usia 54 tahun pada 21 Agustus 1614 .
Sebuah
kisah tragis dari seorang bangsawan ningrat yang melakukan pembunuhan
berantai tersadis yang pernah ada dimuka bumi ini. Bahkan Vlad Dracul
sendiri tidak pernah berkubang dalam darah atau meminum darah orang yang
dibunuhnya. Oleh sebab itu julukan “Vampir” sebenarnya lebih cocok ditujukan kepada Elizabeth Bathory.
3. Marie Laveau
Marie Laveau dikenal pendeta Voodoo dan menguasai ilmu hitam. Dia
tersohor di pertengahan tahun 1800-an. Leavue dukun paling kuat dan
mampu memerintahkan alam gaib di bawah kendalinya. Makam perempuan ini
merupakan tempat paling angker di Kota New Orleans, Negara Bagian
Louisiana, Amerika Serikat.
Hantu Laveau bakal muncul di hadapan mereka yang berani mengetuk ruang
bawah tanah di sebuah toko menjual barang-barang perdukunan. Toko ini
pernah menjadi tempat tinggal perempuan itu. Jangan lupa untuk membawa
sesaji yakni susunan jagung, alkohol, bunga, dan memuja patung dirinya.
Meskipun legenda Marie Laveau agak sulit untuk
dibuktikan, dia sering digambarkan sebagai ratu voodoo paling terkenal
di New Orleans. Lahir sekitar 1794, ia bekerja untuk keluarga kulit
putih yang kaya dan dianggap tahu semua hal dan punya mistis kuat,
perpaduan Katolik Roma dengan kepercayaan roh Afrika. Dia juga punya
ular bernama Zombi. Tetapi dikatakan bahwa ia menggunakan tahi lalatnya
di berbagai rumah tempat ia bekerja untuk mendapatkan informasi tentang
orang-orang. Informasi inilah yang membuatnya terlihat maha tahu. Pada
saat kematiannya pada tahun 1881, New York Times menulis. "Untuk
takhayul orang putih, Marie muncul sebagai seorang pedagang dalam seni
hitam dan orang yang harus ditakuti serta dihindari"
4. Yuki Ona
Kisah
Yuki-Onna (Wanita Salju) Merupakan salah satu kisah hantu klasik di
Jepang, yang sudah sering diangkat dalam bentuk Opera, bahkan pernah
dibuat dalam bentuk film klasik. Kisah hantu tidak klasik ditandai
dengan adegan berdarah-darah, namun lebih merupakan cerita yang yang
diisi tokoh manusia dan hantu yang melibatkan percintaan, kesedihan yang
dalam dan tragedi.
Cerita dimulai dari dua orang penebang kayu bernama Mosaku dan Minokichi
yang hidup di daerah provinsi Musashi (terletak di antara Tokyo dan
Saitama), Mosaku adalah seorang pria yang berada di usia senja,
sementara muridnya , Minokichi adalah seorang pemuda tegap berumur 18
tahun. Setiap hari mereka berangkat pagi-pagi sekali ke sebuah hutan
yang jaraknya 5 mil dari desa mereka. Di antara desa mereka dan hutan
yang dituju ada sebuah sungai besar yang beraliran deras. Begitu
derasnya arus sungai tersebut sehingga tidak ada jembatan yang kuat
menahan arus (jembatan yang ada selalu rusak akibat terjangan arus
deras). Siapapun yang ingin menyebrangi sungai harus melewatinya dengan
bantuan kapal penyebrang kecil.
Suatu
hari Mosaku dan Minokichi sedang dalam perjalan pulang. Ketika itu
cuaca begitu dingin dan mulai turun badai salju. Saat sampai di di tepi
sungai, mereka menemukan bahwa si pengayuh perahu yang menyebrangkan
mereka telah pulang ke rumah dan meninggalkan perahunya karena cuaca
buruk. Sadar bahwa mereka tidak mungkin menyebrangi sungai, mereka
memutuskan bermalam di pondok sementara si pengayuh perahu. Pondok itu
benar-benar sederhana, hanya terdiri dari sebuah ruangan tanpa jendela
yang berisi dua buah Tatami, tanpa perabotan apapun.
Mosaku
dan Minokichi yang sudah lelah segera menutup pintu agar salju tidak
masuk ke dalam pondok,lalu kemudian beristirahat. Mereka merasa cukup
hangat dan nyaman sehingga Mosaku yang lanjut usia tak lama berbaring
langsung tertidur pulas, sementara Minokichi yang masih muda termenung
mendeangar suara angin yang menderu yang disertai arus sungai yang
bertambah deras. Badai tidak mereda dan udara malah bertambah dingin,
namun setelah bersusah payah skhirnya Minokichi tertidur juga.Entah
telah berapa lama Minokichi tertidur, tiba-tiba ia terbangun karena
merasakan butir-butir salju yang lembut di wajahnya. Ternyata pintu
pondok yang mereka diami telah terbuka dengan paksa.
Minokichi melihat seorang wanita dalam pondok, wanita yang putih seperti salju dan memancarkan cahaya seperti salju (Yuki-Akari)
sedang membungkuk diatas Mosaku. Ia tengah meniupkan nafasnya yang
dingin menyerupai asap putih kepada Mosaku. Minokichi benar-benar
terkejut dan ketakutan, ia ingin menjerit namun tak ada sebuah suara pun
yang keluar dari mulutnya. saat itulah sang wanita
misterius itu beradu pandang dengannya, ia mendekatkan wajahnya pada
Minokichi. Dalam ketakutan yang amat sangat, Minokichi merasakan bahwa
wanita yang berada di hadapannya adalah seorang wanita yang amat cantik,
walaupun sorot matanya membuat tubuhnya gemetar dalam ketakutan.
Wanita itu terus menatap Minokichi dan tiba-tiba tersenyum dan berkata, “aku
ingin memperlakukanmu sama seperti orang lain, tapi aku kasihan padamu.
Kau, masih muda, begitu tampan, Minokichi. Aku tidak akan menyakitimu
tapi jika kau
memberitahu siapapun termasuk ibumu tentang apa yang terjadi malam ini…
maka aku akan membunuhmu! Ingat apa yang telah kukatakan ini.”
Seusai wanita salju itu berkata, ia meninggalkan Minokichi sendirian.
Mengira bahwa itu hanyalah mimpi, Minokichi segera bangun dan melihat
keluar namun ia tidak melihat siapapun atau apapun. Sambil menutup pintu
ia bertanya-tanya apakah bukan angin yang membuka pintu pondok tadi. Ia
memanggil Mosaku namun tidak ada jawaban. Minokichi mengulurkan tangan
untuk menyentuh Mosaku dan tanpa sengaja ia menyentuh wajah Mosaku, dan
ternyata wajahnya telah membeku. Mosaku telah meninggal.
Ketika
fajar tiba, badai pun berakhir dan si pengayuh perahu menemukan
Minokichi yang tergeletak pingsan di samping Mosaku yang telah
meninggal. Ia membawa keduanya menyebrang, lalu menguburkan jenazah
Mosaku. Sementara Minokichi dibawa pulang kerumahnya. Setelah sembuh,
Minokichi tidak dapat langsung melupakan kejadian yang telah ia alami.
Ia dihantui oleh kematian Mosaku, namun ia bersikeras untuk menceritakan
kejadian itu pada siapapun, karena ia tidak ingin kehilangan nyawanya.
Lama berselang, Minokichi baru berani kembali pada pekerjaan
sehari-harinya, menebang kayu, membelahnya menjadi potongan-potongan
kecil, lalu menjual kayu tersebut ke pasar dengan bantuan ibunya.
Pada
musim dingin tahun berikutnya, Minokichi sedang berada dalam perjalanan
pulang melalui jalan setapak di hutan, saat ia berpapasan dengan
seorang gadis yang amat cantik, berkulit putih indah, yang hendak
melalui jalan yang sama. Minokichi pun menyapa gadis itu dan tanpa
disangka gadis itu menjawab dengan suara yang menurut Minokichi adalah
suara yang paling merdu didengarnya. Mereka pun mulai berjalan bersama
dan bercakap-cakap. Si gadis menceritakan bahwa ia bernama O-Yuki,
ia telah kehilangan kedua orangtua, dan untuk menyambung hidupnya ia
akan pergi ke Yedo (Edo atau Tokyo) untuk mencari kerabatnya agar dapat
membantu mencarikannya pekerjaan sebagai pelayan.
Entah
apa yang dirasakan Minokichi, namun rasanya gadis itu nampaknya makin
cantik dimatanya. Minokichi pun mulai merasa suka pada gadis itu,
sehingga ia memberanikan diri untuk bertanya apakah gadis itu sudah
memiliki pasangan. Gadis itu tertawa sambil mengatakan bahwa ia belum
memiliki pasangan atau kekasih. Ia pun balik bertanya apakah Minokichi
telah memiliki pasangan, dan Minokichi menjawab bahwa ia pun belum
memilikinya. Setelah pernyataan ini maka kedua muda-mudi ini tidak
berbicara lagi sampai mereka tiba di desa tempat tinggal Minokichi.
Namun dalam hati masing-masing telah tumbuh rasa saling menyukai. Maka
Minokichi mengundang O-Yuki
untuk singgah dan beristirahat di rumahnya. O-Yuki ternyata bukan hanya
gadis cantik, namun juga berkelakuan baik. Ibu Minokichi pun tak butuh
waktu lama untuk menyukainya. Sampai ia membujuk agar O-Yuki mau menunda
perjalanannya ke Yedo. Pada akhirnya O-Yuki tidak pernah melanjutkan
perjalanannya ke Yedo, melainkan menetap di desa itu dan tinggal bersama
Minokichi dan ibunya, sebagai istri dan menantu.
Lima
tahun kemudian ibu Minokichi meninggal, O-Yuki tetap bersama-sama
Minokichi, bahkan ia telah melahirkan 10 orang anak lelaki dan perempuan
bagi Minokichi. Semuanya tampan dan cantik, serta memiliki kulit putih
seindah ibunya. Banyak penduduk desa yang mengagumi O-Yuki. Kebanyakan
petani tampak tua setelah melahirkan anak, namun O-Yuki yang telah
menjadi ibu 10 anak tetap terlihat cantik. Secantik saat pertama
kedatangannya di desa, mereka.
Suatu
malam setelah anak-anak tidur, O-Yuki menjahit dibantu dengan sebuah
cahaya dari lampu kertas. Minokichi yang sedang menatapnya, tiba-tiba
berkata, “Melihat
kau menjahit dengan pantulan cahaya di wajahmu, aku teringat suatu hal
aneh yang terjadi saat aku masih berusia 18 tahun. Kala itu aku melihat
seorang wanita yang secantik dan seputih dirimu… dan ia memang mirip
denganmu… “
Tanpa menghentikan pekerjaannya, O-Yuki bertanya, ”ceritakanlah padaku, dimana kau bertemu dengannya?” lalu Minokichi mulai bercerita tentang Mosaku dan pengalamannya di pondok pengayuh perahu. “Entah
itu sebuah mimpi atau bukan,tapi saat-saat itulah aku pernah melihat
orang secantik engkau. Tentu saja ia pasti bukan manusia dan aku sangat
takut padanya. Hingga sekarang pun aku tidak yakin apakah yang aku lihat
itu mimpi atau memang benar-benar seorang wanita salju.”
O-Yuki langsung melemparkan jahitannya. Ia mendekati suaminya dan berseru, “itu
adalah aku! Bukankah aku telah mengatakan bahwa aku akan membunuhmujika
cerita itu pernah keluar dari mulutmu. Sekarang, demi anak-anak kita…” O-Yuki tetap berteriak namun suaranya menjadi penuh kesedihan, “jagalah aak-anak kita, karena jika kamu tidak melakukannya, maka aku akan melakukan hal yang pernah aku katakana padamu…”
Minokichi
tidak sempat berkata apa-apa. O-Yuki mulai tidak terlihat dan kemudian
menguap menjadi butir-butir salju yang halus,yang menghilang melalui
cerobong asap. sejak saat itu, ia tidak pernah terlihat lagi.
5. Si Manis Jembatan Ancol
Waktu zaman Belanda masih menjajah Indonesia, sekitar tahun 1860, ada
seorang wanita tua bernama Mak Emper*. Disebut dengan nama seperti itu,
karena ia—bersama dua anaknya, yaitu Mpok dan Ariah—tinggal di emperan
rumah seorang Tuan Tanah. Mak Emper dan Mpok bekerja untuk Si Tuan Tanah
sebagai penumbuk padi. Sementara Ariah mencari kayu bakar untuk dipakai
sendiri. Dengan demikian, hidup Mak Emper dan kedua anaknya tidak
kelaparan, walaupun jauh dari kata berkecukupan.Tahun demi tahun berlalu, hingga Mak Emper makin renta, sementara Mpok dan Ariah menjelma menjadi gadis cantik. Tuan Tanah yang melihat kecantikan Ariah langsung jatuh hati. Ia meminta Ariah kepada Mak Emper untuk dijadikan istri.
Mak Emper pun galau. Sebenarnya tidak masalah Tuan Tanah ingin memperistri Ariah, namun ada dilema yang dirasakannya. Pertama, Ariah masih memiliki kakak wanita—menurut adat orang dulu, melangkahi kakak merupakan pamali; kedua, Tuan Tanah sendiri sudah punya istri dan anak—jika ia mengizinkan Tuan Tanah menikahi Ariah, tentu ia sungkan terhadap istri dan anak Tuan Tanah. Tapi, jika tidak diizinkan pun ia tidak enak kepada Tuan Tanah. Kegalauan itu kemudian dicurahkan kepada dua anaknya.
Mpok sih bisa memahami duduk perkara. Sehingga, ia bersedia dilangkahi Ariah demi kebaikan bersama. Mak Emper dan Mpok kemudian mengembalikan permasalahan tersebut kepada Ariah. Soalnya urusan terima-tidaknya lamaran seorang laki-laki memang harus dikembalikan kepada anak, sebab ia yang akan menjalani kehidupan berumah tangga.
Ditanya tentang pernikahan, pikiran Ariah menggayut. Pasalnya, ia belum memikirkan untuk menikah. Lagipula, melangkahi kakak semata wayang merupakan pamali. Ia takut terkena karma, kakaknya tidak dapat jodoh.
“Pokoknya Mpok ridho deh dilangkahin sama Ariah. Ini semua demi kebaikan kita. Mpok yakin suatu saat bakal dapat jodoh juga,” tutur Mpok meyakinkan Ariah.
“Nggak deh, Mpok. Ariah nggak mau bersenang-senang di atas penderitaan Mpok. Walaupun Mpok ridho, tapi Ariah nggak ridho. Ariah nggak mau berumah tangga sebelum Mpok berumah tangga lebih dulu. Mak, Mpok, sepertinya Ariah tidak bisa menerima lamaran Tuan Tanah deh,” begitu pemikiran Ariah disampaikan kepada ibu dan kakaknya.
Mak Emper hanya menghela napas.
“Ariah udah ambil keputusan, Mak, Mpok!” tegas Ariah, sekali lagi.
***
Keesokan harinya, Ariah minggat dari emperan yang telah menjadi tempat tinggalnya selama ini. Ia meninggalkan ibu serta Mpok yang telah menemaninya selama ini. Juga dari Tuan Tanah yang sudah baik menerima mereka. Tapi, jangan hanya karena dirinya, mereka jadi terusir, lebih baik ia yang menyingkir. Ariah tahu diri.
Namun, minggat dari tempat tinggalnya selama ini, bukanlah perkara gampang. Selama hidupnya, Ariah tidak pernah meninggalkan kampungnya. Jadi, ia bingung harus melangkahkan kaki ke mana. Ia menuju Ancol tempat biasanya mencari kayu bakar dan melanjutkan perjalanan menuju utara hingga sampai di tempat bernama Bendungan Melayu.
Setelah sore, ia memutuskan untuk kembali ke Ancol, dan entah apa yang akan direncanakan Tuhan untuknya. Dari sela-sela pokok kayu muncul dua sosok laki-laki berbaju hitam-hitam menghadang Ariah. Mereka ini centengnya Tambahsia**.
“Heh, anak perawan, mau kemana lo?” tanya salah seorang dari mereka, yang bernama Pi’un.
Ariah kebingungan melihat kedua centeng itu petantang-petenteng di hadapannya.
Melihat Ariah yang kebingungan Sura maju dan langsung menggamit tangan Ariah begitu saja. “Ikut gua, lo!” tukas Sura.
Ariah berusaha mengelak, “Mau dibawa kemana saya, Bang?”
“Nggak usah banyak tanya lo! Pendeknya lo bakal hidup enak di Bintang Mas!”
Demi menakut-nakuti Ariah, Pi’un mengeluarkan golok dari sarungnya dan mengibas-ngibaskannya.
“Nggak, Bang, Aye nggak mau!” Ariah meronta-ronta.
“Sialan lo!” Tubuh Ariah pun dihempaskan oleh Sura.
"Garap aja, Bang, ini bocah, baru kita habisin!"
Dalam ketidakberdayaan, Ariah “digarap” dua manusia terkutuk itu, kemudian dibunuh. Demi menghilangkan bukti mereka menggotong jasad Ariah dan melemparkannya ke pinggir laut Ancol.
Kisah kematian Ariah akhirnya menjadi dongeng yang melegenda.
***
Begitulah kisah si Manis Jembatan Ancol. Walaupun, setelah saya membaca artikel di Cerpen Horor, tentang Lukisan Asli Si Manis Jembatan Ancol, ada sedikit perbedaan. Bahwa Ariah—yang lebih terkenal dengan sebutan Mariah, Maria, atau Mariam—tidak mati, melainkan diambil oleh Ratu Kidul. Wallahu'alam.[]
Catatan:
* Mak Emper, berasal dari kata emperan, yaitu bagian bangunan rumah kecil, yang berdiri menempel pada bangunan rumah besar.
** Tambahsia adalah pemuda kaya yang memiliki villa bernama Bintang Mas. Ia biasa mencari gadis-gadis muda untuk “dimangsa”. Hal ini yang membawanya ke tiang gantungan pada 1872 di usia 29 tahun.
Itulah Beberapa wanita Heroik bin Binti Mistis yang ada di Dunia
Terimakasih...
Sumber : Dari Berbagai Sumber

.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar